Connect with us

Hukum Kriminal

Bos Gunawangsa Buka Suara soal Dugaan Penyekapan di Apartemennya

Published

on

POJOKJATIM.NET- Pengembang Apartemen Gunawangsa buka suara terkait informasi yang adanya penyekapan di apartemennya di Jalan Tidar Surabaya. Direktur Utama Gunawangsa Group Triandy Gunawan membantah informasi penyekapan itu. Namun, Novita Beefong yang mengaku disekap di kamar lantai 37 Apartemen Gunawangsa Tidar, tetap melaporkannya ke Polrestabes Surabaya.

Manajemen Apartemen Gunawangsa

Triandy mengungkapkan kejadian sebenarnya berkaitan dengan pembatalan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) pada unit yang ditempati Novita Beefong, karena tidak segera melunasi angsuran wajib tiap akhir bulan selama 6 bulan.

“Kami kosongkan. Kami bikinkan surat pembatalan, karena mereka tidak bayar unit. Dan sesuai PPJB kami, mereka wajib mengosongkan sendiri. Tetapi mereka juga tidak mau mengosongkan, jadi kami melakukan apa yang jadi kebijakan kami,” ujar Triandy Gunawan.

Terkait adanya pemutusan aliran listrik dan air, menurutnya, itu dilakukan karena yang bersangkutan tidak segera mengosongkan kamar setelah mendapat peringatan terakhir. Ia juga mengatakan, Novita sendiri yang mengunci diri di dalam kamar, bukan disekap oleh petugas apartemen.

“Kami mengosongkan unit, kami kirim surat ke kelurahan, dan Polsek Bubutan, untuk membantu pengosongan tersebut. Sewaktu pengosongan, kami persuasif. Kami minta mereka tidak masuk unit. Malah mereka masuk unit dan tidak mau keluar kamar,” imbuhnya.

Dalam siaran tertulis yang diterima Pojokjatim.Net, Senin (10/2/2020), Novita Beefong dan Hatta Wongso Djojo pernah datang ke Gunawangsa memesan satu unit kamar apartement tersebut pada Maret 2018. Untuk harga yang disepakati antara kedua orang tersebut dengan Gunawangsa Tidar Rp 568.500.000. Dibayarkan di awal uang tanda jadi sebesar Rp 5.000.000, dan angsuran pertama Rp 15.680.000.

Dalam perjanjian selanjutnya Novita Beefong dan Hatta Wongso Djojo wajib membayar angsuran dengan tenor pembelian sebanyak 36 kali atau selama tiga tahun. Namun, hingga Februari 2020 kewajibanya belum dibayar hingga nunggak selama enam bulan. Kemudian pada April 2019 terjadi PPJB yang bersangkutan dengan kami. Karena belum lunas, maka yang bersangkutan dikenakan cicilan senilai Rp 14.078.625 setiap tanggal 30 perbulannya. “Sesuai aturan yang disepakati bila sudah 20 persen uang pembayaran, maka unit bisa dipinjam pakaikan kepada yang bersangkutan. Namun kepemilikan masih atas nama kami (karena belum lunas),” papar Triandy.

Setelah sepakat, pihak Gunawangsa hanya menerima pembayaran cicilan sebanyak tujuh kali hingga Agustus 2019. Sisanya, sampai bulan Januari 2020 ini, pihak Novita Beefong belum membayar cicilan tersebut dan tanpa ada alasan yang jelas. “Berdasarkan PPJB kami berhak kosongkan unit,”tandasnya. (jm)

Berbagi Info
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *