Connect with us

Uncategorized

Diduga “Rusak” Akibat Muatan Tebu Berlebih, Warga 5 Desa Tuntut Perbaikan Jalan Dan Jembatan

Published

on

Erik Pelupessy, Warga Desa Rojopolo, Kec. Jatiroto

Lumajang – Setelah dilakukan aksi berkali-kali oleh warga setempat terlebih disetiap musim giling, penghentian lalu lalang kendaraan truck tebu yang diduga bermuatan melebihi tonase oleh warga beberapa desa dan kecamatan yang biasa dilalui truck bermuatan tebu pengiriman ke Pabrik Gula (PG) Jatiroto PTPN XI, diantaranya warga Desa Dawuhan Wetan, Desa Sumbersari Kec. Rowokangkung, Desa Banyuputih lor, Kec Randuagung, desa Banyuputih kidul, dan Desa Rojopolo, Kec. Jatiroto.
Sehingga sempat muncul berbagai rumor yang cukup menyudutkan beberapa pemangku kebijakan maupun instansi terkait, terutama pada situasi perpolitikan yang dinamis di Kabupaten Lumajang

Meski saat ini truck bermuatan tebu ataupun lainnya yang kerap melalui jalan dan jembatan dengan spesifikasi klas III dengan maksimal tonase 8 ton yang melintas desa-desa tersebut sudah tidak lagi lewat, namun ibarat pepatah mengatakan “nasi sudah menjadi bubur” yang artinya meski tuntutan warga telah dipenuhi namun insfrastruktur jalan dan jembatan sudah terlanjur banyak yang rusak, tentunya perlu perbaikan dan perawatan berkala secara periodik.

“Pemerintah Kab. Lumajang, harus bertanggung jawab atas kerusakan jalan dan jembatan sepanjang jalan yang rusak akibat dugaan truck bermuatan tebu dan lainnya yang bermuatan melebihi tonase”,Ujar Erik Pelupessy salah seorang tokoh masyarakat Desa Rojopolo,Kec. Jatiroto, Kamis (27/9/2018).

Lanjutnya, Dia juga mengatakan bahwa setiap warga negara Republik Indonesia juga berhak menikmati fasilitas dari pemerintah untuk kenyamanan dan keamanan saat berkendara, pasalnya jalan dan jembatan yang rusak akibat dugaan muatan truck bermuatan tebu yang melebihi tonase, kerap meresahkan masyarakat saat melalui jalan dan jembatan yang bukan peruntukannya tersebut.

“Bukan hanya truck-truck bermuatan tebu menuju PG Jatiroto saja yang bisa melintas seenaknya dijalanan yang bukan klas jalannya, kami sebagai warga juga butuh kenyamanan saat berkendara”,Cercahnya.

Sebagai bentuk protes, dalam waktu dekat pihaknya bakal berkoordinasi dengan sejumlah tokoh masyarakat dari sejumlah desa yang jalan dan jembatannya rusak akibat dugaan tonase berlebih muatan tebu, bakal bersikap menuntut perbaikan kepada pemerintah Kab. Lumajang, mencukupkan rambu rambu lalu lintas yang cukup dan sesuai informasinya, sosialisasi penggunaan infrastruktur pembangunan dan informasi yang cukup tentang pembangunan masyarakat di sekitar kawasan industri serta bersama sama membangun kerjasama yang saling menguntungkan antara masyarakat dan pihak Perusahaan PG Djatiroto dalam bentuk yang mendidik, sehingga nantinya dapat diaudit dan non partisan

“Kami sudah berkoordinasi dengan sejumlah tokoh masyarakat dari berbagai desa tersebut diatas yang merasa dirugikan dengan kerusakan insfrastruktur jalan dan jembatan ini, pertama untuk menginventarisir kerusakan serta tanggapan masyarakat setempat. Kedua memberikan solusi sebagai umpan balik bagi pelaksana tugas/instansi terkait berdasarkan tanggapan masyarakat setempat.  Nanti jika waktu yang sudah kita sepakati pasti kami akan bersikap, pokok nya lihat saja, aksi kami yang terakhir kami rasa cukup keras, dan itu tentunya akan jadi bahan pertimbangan Pihak Manajemen PG Djatiroto” Pungkasnya. (bas).

Berbagi Info