Connect with us

Headline

Duit Suap Rp 1,8 M Disita KPK, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah Ngakunya Nggak Dapat Apa-apa

Published

on

Bupati Sidoarjo Saiful Ilah digiring menuju tahan KPK

POJOKJATIM.NET- Bupati Sidoarjo Saiful Ilah ditetapkan tersangka suap proyek infrastruktur bersama 3 pejabat Pemkab Sidoarjo dan 2 orang dari pihak swasta/kontraktor. Setelah menjalani pemeriksaan maraton mulai di Polda Jatim dan dilanjutkan ke Gedung Merah Putih KPK, bupati yang akrab disapa Abah Ipul dan 5 tersangka lainnywa itu dijebloskan ke tahanan. Bupati Saiful Ilah pun mengenakan rompi tahanan dan diborgol. Kontras dengan keseharinnya yang sering tampil necis dan mendapat fasilitas wah di Pemkab Sidoarjo.

Usai menjalani pemeriksaan Saiful kini ditahan di rumah tahanan (Rutan) KPK.
Pantauan di lokasi, Bupati Saiful Ilah keluar dari ruang pemeriksaan Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2020) dinihari sekitar pukul 03.48 WIB. Pria yang juga Ketua DPC PKB Sidoarjo ini tampak diborgol tangannya dan memakai rompi berwarna oranye yang biasa dikenakan tersangka KPK.

Kepada wartawan, Saiful mengaku tidak menerima apapun dalam kasus dugaan suap ini. Dia mengatakan tidak tahu menahu soal pemberian suap. “Ya kita kurang tahu. Saya sendiri nggak dapat apa-apa,” ucap Saiful Ilah yang masih mengenakan peci hitam.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengungkapkan KPK menyita uang senilai total Rp 1.813.300.000 dalam rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Selasa (7/1/2020). “KPK akan mendalami lebih lanjut terkait dengan hubungan barang bukti uang dalam perkara ini,” kata Alexander Marwata dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Rabu (8/1/2020) malam.

Pejabat Pemkab Sidoarjo usai keluar dari ruang pemeriksaan Polda Jatim sebelum dibawa ke KPK di Jakarta

Dijelaskan, OTT itu berawal dari adanya informasi akan adanya transaksi siap mengenai proyek infrastruktur di Kabupaten Sidoarjo. Setelah memastikan informasi itu, tim bergerak ke Pendopo Bupati Sidoarjo dan menangkap tiga orang pihak swasta bernama Ibnu Ghopur (IGR), Totok Sumedi (TSM), dan Iwan (IWN) pada pukul 18.18 WIB.

“KPK mengamankan IGR, TSM, dan IWN di parkiran Pendopo (rumah dinas bupati) Kabupaten Sidoarjo pada Selasa, 7 Januari 2020 pukul 18.18 WIB. Dari IGR, KPK mengamankan uang Rp 259.000.000,” kata Alex.

Enam menit kemudian, tim KPK mengamankan Saiful dan ajudannya yang bernama Budiman di Kantor Bupati Sidoarjo. Uang senilai Rp 350.000.000 diamankan dari tangan Budiman. Tim KPK lalu bergerak ke rumah Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air Sunarti Setyaningsih pada pukul 18.36 WIB dan mengamankan uang Rp 225.000.000.

Selanjutnya, KPK mengamankan Rp 229.300.000.000 di rumah Pejabat Pebuat Komitmen pada Dinas PU dan BMSDA Sidoarjo Judi Tetrahastoto pada pukul 19.18 WIB. “Setelah itu, KPK mengamankan dua staf IGR di kantornya, yakni SNF (Siti Nur Fandiyah) dan SUP (Suparni) pada pukul 19.40 WIB dan 23.14 WIB. Dari tangan SUP, KPK mengamankan Rp750 juta dalam ransel hitam. Terakhir, KPK mengaankan SSA (Kepala Bagian Layanan Pengadaan, Sanadjihitu Sangadji) di rumah pribadinya pada 00.25 WIB,” beber Alex.

Orang-orang yang terjaring OTT tersebut kemudian diterbangkan ke Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut di Gedung Merah Putih KPK. Setelah gelar perkara, KPK mengungkap adanya dugaan kasus suap terkait proyek infrastuktur dan menetapkan enam orang tersangka.

Alex memaparkan empat orang diduga sebagai penerima suap terdiri dari Saiful Ilah (Bupati); Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air Kabupaten Sidoarjo, Sunarti Setyaningsih; Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air Kabupaten Sidoarjo, Judi Tetrahastoto; dan Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan (ULP), Sanadjihitu Sangadji.

Mereka diduga menerima suap karena memenangkan Ibnu dalam beberapa proyek. antara lain proyek wisma atlet, Pasar Porong, Jalan Candi-Prasung dan peningkatan Afv Karag Pusang Desa Pagerwojo.

Sedangkan dua orang diduga pemberi suap berasal dari pihak swasta bernama Ibnu Ghopur dan Totok Sumedi. “Setelah menerima termin pembayaran, IGR bersama TSM diduga memberikan sejumlah fee kepada beberapa pihak di Pemerintah Kabupaten Sidoarjo,” kata Alex. (str-7)

Berbagi Info