Connect with us

Hukum Kriminal

Gegeran Sidang Bos Es Krim Zangrandi, Pengacara Sampai Gebrak Meja

Published

on

POJOKJATIM.NET- Sidang lanjutan perkara penggelapan saham di PT Zangrandi Prima, dengan terdakwa Ir. Willy Tanumulia, drg. Grietje Tanumulia, Emmy Tanumulia, dan Fransiskus Martinus Soesetio, kembali digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, dengan agenda pemeriksaan saksi korban, Selasa (06/02/2020).

Dari pantauan di ruang Garuda 1, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Damang Anubowo dari Kejaksaan Negeri Surabaya, menghadirkan saksi korban Evy Susantidevi Tanumulia untuk dimintai keterangannya. “Disumpah dulu ya bu,”ucap Ketua Majelis Hakim Pujo Saksono sebelum sidang dimulai.

Dalam keterangannya, saksi menceritakan awal mula berdirinya PT Zangrandi. Ia mengaku mengetahuinya saat Adi Tanumulia (ayah korban) membeli toko es krim bernama Zangrandi dari orang Italia.

Suasana sidan perkara dugaan penggelapan saham Zhangrandi di PN Surabaya

“Pada tahun 1997, papa saya (Adi Tanumulia) meninggal dunia. Tetapi sebelum meninggal papa saya menyuruh untuk menjadikan sebuah perusahaan berbadan hukum dalam bentuk PT (Perseroan Terbatas),”kata saksi Evy menjawab pertanyaan JPU Damang Anubowo.

Kemudian, masih kata saksi, pada tahun 1998 akhirnya berdirilah PT Zangrandi Prima berdasarkan Akta No. 29 tanggal 12 Februari 1998 yang dibuat dihadapan Notaris/PPAT Susanti SH.

“Pada saat itu yang menjadi direktur pak Willy. Kami semua tidak dapat deviden karena kata pak Willy Zangrandi merugi. Saya baru dapat deviden itu mulai dari tahun 2004 sampai 2011, kira kira satu miliar rupiah, dan semuanya dapat,”imbuhnya.

Ketika ditanya, terkait alasan saksi melaporkan keempat saudaranya sendiri itu ke Polrestabes Surabaya, ia mengaku karena tidak lagi mendapat deviden dari saham yang dimilikinya. “Gara gara saham saya diambil. Saya tahunya itu dari anak kandung saya Monic. Katanya saham saya diambil ama mereka (Willy, Grietje, Emmy),”ujarnya.

Saksi mengaku, setelah mendapati informasi sahamnya dibagi bagi, selanjutnya dirinya tidak mendapatkan deviden kembali. “Terakhir saya terima itu sekitar tahun 2015 dan 2016. Setelah itu saya ga dapat lagi,”keluhnya.

Padahal, saksi mengaku saat akan diadakan RUPS ia mewanti wanti kepada Elsye, agar jangan membagikan saham Silvya yang 20 lembar saham. Karena dari saham tersebut, terdapat 10 saham miliknya.”Saham 10 lembar itu punya saya, saya titipkan ke Silvya. Karena itu sesuai saran papa saya,”jelasnya.

Terkait perdamaian, saksi mengaku pernah melakukan upaya tersebut. Akan tetapi saksi kecewa karena hingga saat ini belum pernah terwujud terkait pembagian deviden.

Ketika giliran penasihat hukum terdakwa diberikan kesempatan untuk bertanya, sesuatu hal yang tak disangka sangka terjadi. Diduga merasa tak puas dengan jawaban saksi, Erles Rareral menggebrak mejanya sehingga membuat seisi ruangan kaget.

“Hey..kamu jangan gebrak gebrak. Saksi ini orang tua. Jangan paksakan dia untuk menjawab sesuai keinginanmu,”hardik hakim anggota Mashuri Effendi.

Kemudian setelah itu, saksi dicecar pertanyaan terkait siapa saja saksi yang mengetahui bahwa Adi Tanumulia menyarankan agar saham 10 lembar miliknya dititipkan kepada Sylvia. “Waktu itu cuma saya, suami saya dan papa saya,”tukas saksi.

Sedangkan terkait yang mempunyai inisiatif untuk membuat surat pernyataan saham miliknya yang 10 lembar, saksi mengaku kesepakatan semua anggota keluarga. Ketika keterangan saksi di tanyakan kebenarannya kepada para terdakwa, kemudian ditanggapi dengan benar. “Benar pak hakim,”pungkas. (str2)

Berbagi Info