Connect with us

Headline

Ngeri… Surabaya Rawan Gangster Bersenjata Tajam

Published

on

POJOKJATIM.NET- Maraknya gangster bersenta tajam yang bermunculan di Kota Surabaya, membuat masyarakat resah dan was-was. Meski dua gangster seperti Jawara dan All Star pernah diringkus polisi pada Oktober 2019 lalu. Nmun hanya dalam waktu beberapa bulan bermunculan gangster-gengster baru di Kota Pahlawan. Ironisnya, anggota geng ini para pelajar, bahkan anak SD pun iku-ikutan. Mengerikan kah?

AKBP Sudamiran Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya mengatakan, dalam catatan kepolisian, gangster yang baru-baru muncul dan meresahkan warga belakangan ini ada tiga. Ketiga gangster tersebut diantaranya Gerombolan Wong Meneng (GWM), Barisan Anak Brutal (BAB) dan Barisan Remaja Tampan (BRT). Menurutnya, ketiga gengster tersebut saat ini sedang dalam pantauan polisi. “Ketiga geng ini ada miskomunikasi di media sosial, hingga saling menghina. Untuk itu kami berupaya untuk melakukan langkah-langkah pencegahan adanya kerusuhan. Karena mayoritas anggotanya itu anak-anak. Bahkan ada yang masih SD,” Kata Sudamiran, Kamis (6/2/2020) melalui sambungan teleponnya.

Untuk mencegah terjadinya kerusuhan atau tindakan kriminal, lanjut Sudamiran, ia menerjunkan  Tim Cyber Satreskrim Polrestabes Surabaya melakukan antisipasi preventif dengan melakukan patroli siber. Jika nanti ditemukan para geng tersebut akan melakukan pertemuan yang mencurigakan, maka polisi akan melakukan tindakan dengan pembubaran.

Namun hingga saat ini, pihaknya belum menemukan kegiatan ketiga geng tersebut yang terpaut hukum pidana. Polisi hanya menemukan barang bukti senjata tajam yang masih ditelusuri lebih lanjut kepemilikannya. “Kemarin kami temukan gangster di Sukolilo, anggotanya masih anak-anak semua. Ya tindakan kami adalah memanggil orang tua dan pemerintah kota untuk melakukan pembinaan. Ada beberapa alat bukti senjata tajam, tapi kepemilikan masih pendalaman,” papar AKPB Sudamiran.

Ditanya terkait terlibatnya anak-anak menjadi anggota Gengster, Sudamiran mengatakan jika rata-rata hanya ikut-ikutan teman. Meski begitu, ia optimis bahwa keberadaan geng-geng remaja ini dapat diatasi dengan kerjasama Pemkot Surabaya, polisi dan masyarakat. Seperti halnya geng All Star yang setelah dikuak polisi tahun lalu yang saat ini ditinggalkan anggota.

“Seperti fenomena geng Jawara dan All Star, yang setelah didamaikan Bu Risma (Tri Rismaharini), Pak Kapolrestabes dan unsur Reskrim, Alhamdulillah geng All Star yang begitu besar langsung redup. Tentu saja para orang tua juga harus mengawasi pertumbuhan anak-anaknya dalam menggunakan teknologi HP,” ungkapnya (jm)

Berbagi Info