Connect with us

Headline

Pengamat UINSA: Narasi Keroyok PDIP di Pilwali Surabaya, Politik Kuno

Published

on

POJOKJATIM.NET- Munculnya penilaian sumbang terhadap bakal calon wali (Bacawali) Kota Surabaya yang memborong rekomendasi dari sejumlah partai politik dinilai hal biasa. Justru yang aneh, adanya narasi upaya menjadikan PDI Perjuangan (PDIP) “musuh bersama” di Pilwali Surabaya 2020. Narasi itu kemunduran jika motifnya dendam.

Demikian diungkapkan Pengamat politik dari Universitas Islam Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Andri Arianto. Dosen FISIP ini menilai wajar bacawali mendapatkan rekom dari beberapa partai. Andri memandang, rekomendasi itu untuk keperluan administasi pencalonan, apalagi dalam aturannya, partai politik bisa mengusung calon hanya jika memenuhi suara 20 persen. Beberapa partai politik yang wakilnya saat ini  duduk di DPRD Surabaya sebagian besar tidak memenuhi persyaratan itu, kecuali PDI Perjuangan. 

Machfud Arifin dan Ketum DPP PKB Muhaimin Iskandar

“Dalam aturan partai boleh mengusung 20 persen atau gabungan parpol atau indpenden. Jangan terjebak ini serasa pileg, padahal ini pilwali,” papar Andri, Selasa (20/1/2020).

Andri mematahkan narasi ada upaya mengepung PDI Perjuangan. Banyak orang menilai susah mengalahkan PDI Perjuangan. “Pada prinsipnya bahwa banyak orang ngomong susah kalahkan PDIP, atau dalam bahasa vulgar, keroyok PDIP. Narasi itu menurut saya ada kemunduran kalau narasinya dendam,” jelasnya.

Andri menegaskan, Rakyat Surabaya saat ini membutuhkan tokoh atau figur. Tidak terlalu penting apa partainya. Yang dibutuhkan pasca Tri Rismaharini habis masa jabatan adalah Surabaya akan lebih maju. “Bukan narasi keroyok.  Kita tahu Bu Risma bekerja untuk Surabaya. Tidak melayani partai tertentu. Ini ke depan kita harus pikirkan dalam mengungkapkan sesuatu supaya tidak membuat publik gaduh,” katanga. 

Belakangan ini, lanjutnya, ada tokoh yang mulai naik dipermukaan. Seperti Machfud Arifin yang berlatar pensiunan polri, Sholeh-Taufik Monyong yang maju dari jalur independen, Namun belum ada parpol yang usung kadernya sendiri. “Ini semua harus menenuhi adminsitrati yang harus dipenuhi di awal,” ujarnya.

Spanduk baliho Eri Cahyadi dar Armuji mulai dikenalkan meski rekom PDIP untuk Pilwali Surabaya belum resmi dipublikasikan

Andri menegaskan agar tidak lagi membangun narasi keroyok mengkoroyok partai. Penilaian semacam ini sebagai politik kuno.  “Bisa belajar dari bonek, sudah bisa mengorganisir sendiri. Bonek saja sudah maju, gak keroyokan, gak dendam dan Udah tidak tawuran,” terangnya.

Yang perlu diperhatikan saat ini adalah mencari bacawali yang terbaik dari yang paling baik. Walaupun ada kalangan yang ingin Risma sebagai wali kota seumur hidup, Tetapi keinginan itu tidak mungkin terwujud, karena menyalahi aturan yang ada.

“Yang ditinggal oleh Bu Risma, ruang itu harus diisi untuk memajukan Surabaya. Masyarakat ngak melihat kepentingan parpol,” jelasnya.

Terakhir, Andri mewanti-wanti narasi Pilwali Surabaya jangan terjebak kepada administrasi. Tapi lebih kepada tawaran kebijakan yang akan dilakukan oleh bakal calon setelah terpilih. (str-1)

Berbagi Info