Connect with us

Headline

Soal Mutasi Siswa, Dinas Pendidikan Tulungagung: Mengacu Zonasi

Published

on

Saifudin Zuhri, Kabid Pembinaan SMP Dispendikpora Tulungagung.

pojokjatim.ne, Tulungagung – Tempat diisukan adanya ‘deal-deal’ pasca diterimanya beberapa siswa yang masuk ke SMPN 1 Tulungagung, di awal semester genap tahun 2020. Hal itu, ditepis oleh pihak Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Tulungagung, karena mutasi atau pindah sekolah merupakan hal yang sah jika dilaksanakan sesuai ketentuan.

Karena dengan penerapan sistem PPDB zonasi, yang merupakan program Pemerintah pusat untuk pemerataan pendidikan, yang juga menjadi acuan bagi mutasi siswa. Kini tidak ada lagi label sekolah favorit.

“Mutasi siswa kalau sesuai aturan, itu bukan hal yang haram. Bangku ada atau tempat ada, kalau gak ada ya gak bisa,” papar Saifudin Zuhri, Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Tulungagung, Selasa (21/01/2020).

Ia mencontohkan, satu kasusistik soal mutasi siswa karena perpindahan tempat tinggal orang tua.

“Perpindahan zonasi, ada memang dari jombang itu rumahnya Ngantru karena orang tuanya sebagai guru memohon, dengan masa kerja yang sudah lama, dengan pertimgan itu lalu pindah di SMPN 2 Tulungagung,” terangnya.

Berkaitan dengan kepindahan siswa dari SMPN 1 Kedungwaru menuju SMPN 1 Tulungagung, Dinas Pendidikan menyebut itu hal yang wajar dan lumrah terjadi, karena Dinas Pendidikan enggan menyebut adanya sekolah label favorit.

“Pemerintah saat ini tidak ada sekolah favorit, makanya PPDB semua sekolah harus mampu memberikan layanan proses pembelajaran semua anak. Baik dari latar belakang yang berbeda, mental berbeda, tidak boleh dipilih yang pintar dipilihi,” tuturnya.

Sehingga dengan adanya zonasi, pemerintah saat ini, tidak diskriminasi.

“Misalnya enak SMPN 1, ditinggal santai pelajaran bisa jalan, beda dengan SMPN Pucanglaban, gurunya harus benar-benar berjuang,” terangnya.

Zuhri menegaskan, proses mutasi kini pun mempedomani sistem zonasi, mutasi bukan hal yang diharamkan. Disaat PPDB tidak mendapat sekolah yang jauh, lingkungan tidak sesuai, bisa mutasi sepanjang tempat yang dituju ada mutasi.

“Kemarin kita tentukan ada 36 rombelnya, di SMP lainnya 35, tergantung kapasitas. Kalau siswanya masih kurang dari 36-35 kan bisa menerima. Tapi itu tidak dibuka seluas-luasnya, mutasi tergantung sekolah yang ditinggalkan dan yang menerima,” pungkasnya.(yon/lf)

Berbagi Info
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *